Anda belum tahu apa itu beam detector dalam sistem instalasi alarm kebakaran? Padahal, alat pendeteksi kebakaran ini memiliki peran krusial loh! Detektor cahaya ini merupakan teknologi terbaru yang telah tersedia di beberapa industri alat pemadam kebakaran.
Secara umum, jenis fire detector ini dapat Anda gunakan untuk menyediakan pelayanan seperti mendeteksi api secara otomatis pada jarak yang besar. Anda ingin tahu lebih dalam tentang alat pendeteksi kebakaran satu ini? Pastikan Anda baca ulasan ini sampai selesai ya!
Fungsi Beam Detector dalam Fire Alarm System
Detektor cahaya ini merupakan perangkat deteksi asap yang memiliki peran cukup krusial dalam sistem alarm kebakaran. Pasalnya, komponen ini berfungsi untuk mendeteksi asap atau partikel kecil yang dapat menjadi tanda kebakaran di suatu area.
Uniknya, komponen bernama fire detector ini dalam penempatannya sangat khusus untuk melintasi area besar, seperti koridor atau ruangan luas. Hal ini tentu saja berbeda dengan detektor asap konvensional yang pemasangannya berada di langit-langit atau dinding.
Selain memiliki fungsi untuk mendeteksi kebakaran, beam detector juga memiliki beberapa fungsi khusus lainnya loh! Mau tahu apa saja fungsinya? Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini!
1. Deteksi Asap di Area Luas
Beam Detector dirancang untuk mendeteksi adanya asap atau partikel kebakaran di area yang luas seperti ruang besar, koridor, atau gudang. Fungsi ini memungkinkan deteksi dini pada tahap awal kebakaran.
2. Pendeteksi dengan Cakupan Area yang Lebih Luas
Detektor cahaya ini memberikan cakupan area yang lebih luas jika Anda bandingkan dengan detektor asap konvensional. Sehingga, dengan alat pendeteksi kebakaran ini nantinya Anda dapat meminimalkan jumlah perangkat detektor dalam suatu ruangan, tetapi kinerjanya tetap optimal.
3. Pemantauan Terus-Menerus
Beam detector juga berfungsi untuk terus memantau area yang Anda proteksi untuk mendeteksi adanya asap atau partikel yang mengindikasikan adanya kebakaran.
4. Peringatan Dini Kebakaran
Kemampuan detektor cahaya untuk mendeteksi kebakaran pada tahap awal memungkinkan sistem alarm kebakaran memberikan peringatan dini kepada penghuni atau petugas keamanan. Dengan begitu nantinya penghuni atau petugas keamanan dapat dengan segera melakukan sebuah tindakan baik itu evakuasi ataupun upaya pemadaman.
5. Reduksi Pemalsuan atau Gangguan
Jenis detektor kebakaran ini memiliki keandalan tinggi terhadap gangguan dan pemalsuan, sehingga dapat membantu mengurangi terjadinya alarm palsu.
Cara Kerja Beam Detector yang Perlu Anda Tahu!
Beam smoke detector bekerja dengan prinsip partikel asap yang mengganggu transmisi dan penerimaan cahaya dari sinar infra-merah (IR). Sebuah pemancar mengirimkan seberkas cahaya IR, penerima jarak jauh akan mengukur jumlah cahaya IR yang diterima.
Jadi, ketika asap mulai memasuki sistem, intensitas sinar inframerah (IR) yang diterima akan mengalami penurunan signifikan. Apabila, penurunan tersebut telah mencapai batas yang telah Anda tetapkan, sinyal alarm secara otomatis aktif dan mengirimkan sinyal ke control panel.
Dalam beam detector pada umumnya terdiri dari tiga komponen utama yang terdiri dari unit pemancar, penerima, dan kontrol. Pada bagian pemancar bertanggung jawab untuk memancarkan cahaya, sementara penerima menggunakan sensor fotosensitif untuk mengukur intensitas cahaya.
Sedangkan untuk unit kontrol analisis kemudian menafsirkan sinyal dari penerima apakah memang mengindikasikan adanya kebakaran atau tidak. Ketika komponen smoke detector jenis beam ini dapat beroperasi bersama-sama atau secara independen, tergantung pada jenis sistem yang Anda gunakan.
Dengan cara ini, beam detector mampu memberikan respons cepat terhadap adanya asap, menjadikannya solusi efektif untuk pemantauan dan perlindungan kebakaran. Apalagi, smoke detector type beam memberikan fleksibilitas dalam pemasangan karena dapat Anda atur sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik area.
2 Jenis Smoke Detector Beam dalam Instalasi Alarm Kebakaran
Alat pendeteksi kebakaran type beam ini memiliki rancangan khusus untuk mengatur sistem alarm kebakaran dan akan mengaktifkan alarm berdasarkan tingkat cahaya. Untuk jenis detektor cahaya ada 2 macam loh! Mulai dari tipe reflective maupun point to point, untuk penjelasannya simak ulasan berikut!
1. Reflective beam detectors
Pendeteksi kebakaran yang bekerja dengan menembakkan sinar inframerah dari pemancar ke reflektor yang berada di ujung lain dan tertutup oleh detektor. Kemudian, cahaya tersebut nantinya akan dipantulkan kembali ke alat pendeteksi kebakaran yang bekerja melalui asap type beam.
2. Smoke Detector Beam Type Point to Point
Smoke detector yang memiliki cara kerja dengan spesifik melalui pemancar khusus yang terletak di sisi daerah yang tertutup oleh detektor. Selain itu, alat pendeteksi kebakaran ini juga memiliki penerima khusus yang berada di ujung lain dari area yang terlindungi.
Untuk standar tinggi maksimum pemasangan dari detektor ini adalah 10,5 meter, dimana standar yang ditetapkan oleh BS5839 adalah 25 meter. Selain itu, detector beam type point to pint ini juga memiliki keuntungan lain berupa dapat mendeteksi kebakaran secara otomatis.
Apa Perbedaan antara Smoke Detector dan Beam Detector?
Perbedaan antara detektor asap dan detektor cahaya dapat terlihat dari beberapa aspek, termasuk instalasi, rentang penginderaan, kepekaan, cakupan, dan fitur. Berikut ini adalah penjelasan lengkap tentang perbedaan antara kedua jenis detektor kebakaran tersebut!
1. Instalasi
- Smoke Detector, terpasang pada pada langit-langit atau dinding di berbagai lokasi dan dalam instalasinya memerlukan titik tertentu untuk mendapatkan cakupan optimal.
- Beam Detector, terpasang khusus seperti koridor atau ruang besar dan memerlukan pemosisian yang lebih strategis untuk mencakup seluruh area.
2. Rentang Penginderaan
- Smoke Detector, mendeteksi asap dan partikel kecil di area sekitarnya dengan rentang penginderaan tergantung pada kepekaan sensor dan desain perangkat.
- Detektor Cahaya, mampu mencakup area lebih besar berbeda dengan detektor asap konvensional karena rentang penginderaan tergantung jarak yang terlintas oleh cahaya.
3. Kepekaan/Sensitivitas
- Smoke Detector, sensitif terhadap partikel-partikel kecil hasil dari kebakaran dan tingkat kepekaan dapat Anda sesuaikan dengan kebutuhan.
- Beam Detector, lebih kebal terhadap gangguan dan dapat Anda sesuaikan dengan tingkat kepekaan yang Anda inginkan.
4. Cakupan Area
- Smoke Detector, cocok untuk ruang dalam yang lebih terbatas dan memiliki kebutuhan deteksi asap di area tertentu.
- Detektor Cahaya, lebih ideal untuk cakupan area yang lebih besar seperti lorong, gudang, atau ruang terbuka lainnya.
Lalu, Dimana Bisa Meletakkan Detektor Cahaya?
Dalam peletakkan/pemasangan beam detector tidak boleh sembarangan loh! Karena semua sudah ada aturan yang berlaku dan Anda harus mentaatinya. Jika Anda bingung, simak saja penjelasan lengkapnya berikut ini!
- Detektor cahaya dapat Anda pasang dengan ketinggian hingga 25 meter
- Ketinggian puncak bangunan untuk menginstal detektor ini sekitar 1% dari masing-masing derajat
- Detektor cahaya sebaiknya Anda letakkan 600 mm dari titik tertinggi bangunan
Selain Anda harus memenuhi syarat pemasangan detektor kebakaran, sebagaimana terdapat dalam penjelasan di atas, Anda juga perlu menghindari kesalahan dalam penginstalan. Tanpa berlama-lama, Yuk simak penjelasan lengkapnya berikut ini!
- Elemen beam detector harus terpasang kaku dan permukaannya stabil untuk membatasi risiko dan peletakannya tidak langsung di dinding. Kenapa? Karena permukaan dinding yang mudah rusak akibat perubahan temperatur lingkungan, oleh karenanya Anda harus menambahkan logam atau alas terlebih dahulu.
- Detektor cahaya tipe beam reflektif dapat terpengaruh oleh objek atau permukaan dekat dengan garis pandang antara cahaya dan reflektor. Asap sebagai penghalang tidak hanya akan mengganggu sinyal yang diterima dan memotong intensitas IR, namun juga membentuk bayangan.
- Beam detector sebaiknya Anda letakkan di tempat yang jauh dari cahaya yang dapat mengganggu kinerja dari detektor ini. Karena, penerima sinyal rangsangan harus menerima cahaya yang hanya terpancar dari sistem pemancar detektor kebakaran dan bukan dari cahaya lain. Misalnya sinar matahari langsung yang dapat menyebabkan saturasi infra merah. Kasus lain, misalnya lampu neon yang biasa memancarkan cahaya IR, lampu pijar, lampu natrium, dan kamera yang memancarkan cahaya IR.
Itulah penjelasan lengkap tentang beam detector mulai dari fungsi, cara kerja, ragam jenis hingga perbedaannya dengan smoke detector konvensional. Jika Anda tertarik untuk membeli atau menginginkan informasi lebih tentang detektor kebakaran ini, bisa hubungi kami sekarang ya!



























