Lakukan Pengujian Fire Hydrant Berkala

No Comments
Kami sajikan Artikel pilihan tentang Proteksi Kebakaran di Genggaman Anda
BLOG KEBAKARAN
Konsultan
Kontraktor
Distributor
fire hydrant valve fire hydrant pillar fire hydrant goose rell fire hydrant nozzle fire hose fire hydrant box

Pengujian Fire HydrantDear pembaca..

Pada artikel ini Patigeni.com akan membahas tentang pengujian Fire Hydrant. Semoga bermanfaat !!

Suatu musibah atau kecelakaan dapat terjadi kapan saja. Tanpa bisa kita prediksi, kejadian ini dapat terjadi secara tiba-tiba. Seperti halnya kebakaran yang dapat mengintai kita setiap saat. Untuk meminimalisir kerugian yang ditimbulkan oleh musibah ini, sebaiknya alat-alat pemadam kebakaran selalu dalam keadaan stand by dan siap digunakan kapan pun. Salah satu Alat pemadam yang besar manfaatnya ialah Fire Hydrant. Nah, sebelum memastikan bahwa Fire Hydrant yang kita miliki berfungsi dengan baik maka sangat penting dilakukan pengujian untuk memastikan peralatan dalam keadaan baik. Pengujian ini bertujuan untuk menentukan laju alir dan tekanan di setiap lokasi perusahaan air dalam hal otoritas distribusi air bawah tanah. Hal ini perlu dilakukan untuk memastikan bahwa laju alir dan tekanan air memenuhi standar untuk kebutuhan publik dan tindakan pemadaman. Pengujian fire hydrant meliputi tekanan statis air yang sebenarnya, tekanan residual, dan laju alir air dari fire hydrant. Selain itu, pengujian juga dilakukan untuk merancang sistem fire sprinkler untuk komersial maupun perumahan. Pengujian ini harus dilakukan secara tepat dan hati-hati karena jika salah dalam pembacaan dan analisa hasil di tiap aspek yang diuji dapat mengakibatkan pompa tambahan atau biaya yang berlebihan untuk desain ukuran pipa dalam sistem fire hydrant.

Tahapan Pengujian Fire Hydrant

Sebelum dilakukan pengujian, penting untuk mengetahui jenis fire hydrant yang akan diuji. Ditinjau dari jenis barelnya, ada 2 jenis fire hydrant, yaitu :

1) Barel basah

Jenis ini memungkinkan desain hydrant yang terhubung langsung dengan sumber air bertekanan. Bagian atas dari hydrant, yaitu barelnya selalu terisi dengan air dan tiap-tiap outlet memiliki valve nya masing-masing dengan gagang yang melekat di sisi barelnya.

2) Barel kering

Jenis ini memiliki desain barel dan sumber air bertekanan yang dipisahkan oleh valve utama di bagian bawah barel bawah tanah sedangkan bagian atas akan tetap kering hingga valve dibuka. Beberapa jenis hydrant ini dilengkapi dengan outlet ¼ inci yang dapat mengatur tekanan gauge sehingga memudahkan dalam pelepasan tekanan gauge. Umumnya digunakan pada saat musim salju dimana suhu lingkungan berada di di bawah titik beku.

Pengujian sebaiknya dilakukan selama jam-jam puncak pada pagi hari sebagai skenario terjadinya musibah yang terburuk. Hal ini dikarenakan tekanan di jalan dapat berubah-ubah sebesar 10 psi lebih tinggi di pagi hari daripada sore maupun malam hari. Jangan lupa untuk mengumpulkan informasi terkait tanggal dan waktu pengujian, lokasi pengujian,  Hasil pembacaan pada saat tekanan statis dalam sistem yang tak beraliran, tekanan residu dalam sistem beraliran, hasil analisa aliran mengggunakan pitot gauge, jenis dan ukuran outlet dari hydrant, serta ketinggian hydrant. Berikut contoh pengujian yang dapat dilakukan untuk hydrant tunggal.

1) Cari daerah yang dekat dengan jalur suplai air untuk mengumpulkan hasil analisa tekanan. Setelah itu pilih hydrant berikutnya sebagai sekunder hydrant untuk mendapatkan hasil analisa pitot.

2) Lepaskan tutup nosel pada tekanan hydrant dan atur tekanan gauge pada outlet. Jika hydrant dilengkapi dengan outlet ¼ inci untuk mengatur tekanan gauge, cabut sumbat dan pasang tekanan pada outlet ¼ inci, lalu buka valve dan lakukan analisa pada tekanan statis

3) Catat tiap perubahan ketinggian pada hydrant

4) Buka valve hydrant yang mengalir dan pastikan jalan aliran ke saluran pembuangan aman dan lancar, bebas dari kotoran dan halangan. Jika diperlukan, gunakan difuser

5) Catat tekanan residu dari tekanan gauge hydrant setelah jarum tekanan stabil.

6) Catat hasil analisa pitot dengan cara memasukkan ujung tabung pitot ke dalam pusat aliran dan sekitar setengah diameter dari pembukaan.

7) Tutup hydrant secara perlahan untuk menghindari lonjakan yang tak diinginkan dan kerusakan pada peralatan dan sistem bawah tanah.

8) Periksa bagian belakang outlet dari hydrant apakah bulat dan mulus, persegi dan tajam, atau persegi dan masuk ke dalam barel. Catat jenis dan tipenya

9) Setelah semua valve ditutup, periksa apakah ada kebocoran dan pastikan hydrant dalam keadaan siap untuk digunakan.

Semoga artikel ini bermanfaat !!

Nuno adalah salah satu team kreatif patigeni.com yang selalu meningkatkan pengetahuan tentang sistem kebakaran, agar dapat berbagi dengan Anda melalui karya tulis yang dapat bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.

Blog Sistem Kebakaran

Blog sistem kebakaran Patigeni adalah tempat berbagi informasi dan solusi sistem kebakaran Anda, perkembangan industri dan teknologi rancang bangun adalah resiko baru timbulnya kebakaran sehingga menghasilkan inovasi baru bagaimana sistem kebakaran mempu memproteksi terkait dengan perkembangan yang ada.

 

Sign up Sekarang !

Dapatkan informasi sistem kebakaran terbaru, untuk menjawab perkembangan teknologi yang menghasilkan resiko baru terjadinya kebakaran. Isi form dengan alamat email aktif Anda

Request a free quote

Kami melayani perencanaan, kontraktor, dan perawatan sistem kebakaran, membantu Anda merencanakan sistem kebakaran sesuai standart lokal maupun NFPA

 

No Comments

Leave a Comment

More from our blog

See all posts

Jasa instalasi fire suppression system Jakarta

Jasa instalasi fire suppression system Jakarta Fire suppression system merupakan rangkaian proteksi…
Baca Selengkapnya

Perbedaan utama dari jenis-jenis Fire Sprinkler

Perbedaan utama dari jenis-jenis Fire Sprinkler Saat ini tersedia banyak sekali jenis…
Baca Selengkapnya

Bagaimana Cara Kerja Kitchen Suppression Systems?

Menurut data dari NFPA, 57% kebakaran restoran yang terjadi di US penyebab…
Baca Selengkapnya