Standar Fire Hydrant SNI harus ditaati oleh pengusaha dan kontraktor pemadam

Standar Fire Hydrant SNI

 

Kebakaran merupakan musibah yang sangat dihindari.  Kebakaran mampu melenyapkan harta benda tak terkecuali diri seseorang. Dengan mengingat dahsyatnya dampak yang dihasilkan, sudah saatnya kini kita peduli dan tanggap. Mari tanggap dalam melakukan pencegahan agar bencana kebakaran dapat diminimalisir dan dihindari. Salah satunya adalah dengan “sedia payung sebelum hujan” atau dapat dikatakan “sedia fire hydrant sebelum kebakaran”. Fire hydrant merupakan seperangkat alat yang sangat dianjurkan untuk selalu tersedia baik dalam ruangan maupuan di luar ruangan.

Hydrant merupakan solusi yang mejanjikan apabila bangunan yang mengalami kebakaran berada si akses jalan yang sempit dan tidak memungkinkan Fire Truck mendekat. Untuk itu, alat ini sangat diwajibkan berada di area pasar, supermarket, perkantoran, sekolah dan pemukiman. Karena fungsinya  sangat dibutuhkan dan berkaitan dengan kerugian yang besar, maka fire hydrant harus memenuhi standar yang sesuai dengan standar Indonesia dan luar negeri. Peraturan pada sistem hydrant umumnya telah diketahui oleh kontraktor, sehingga hasil instalasi sesuai dengan standar. Sistem hydrant di Indonesia mengacu pada Standar Fire Hydrant SNI mengacu pada dokumen nomor  SNI 03-1745-2000 tentang Tata cara perencanaan dan pemasangan sistem pipa tegak dan selang untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung, serta  NFPA (National Fire Protection Association)

Standar Fire Hydrant SNI dan NFPA

Dibawah ini adalah beberapa peraturan yang telah ditetapkan oleh NFPA ( National Fire Protection Association) dan SNI (Standar Nasional Indonesia) dan harus dipertanggungjawabkan pada diri sendiri.

  • NFPA-10, Standar untuk Portable Fire Extinguisher.
  • NFPA-13, Standar untuk Instalasi Sistem Springkle.
  • NFPA-14, Standar untuk Instalasi Selang dan Pipa tegak.
  • NFPA-20, Standar untuk Instalasi Pompa Sentrifugal.
  • SNI 03-1735-2000, tentang tata cara perencanaan akses bangunan dan akses lingkungan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung.
  • SNI 03-1745-2000, tentang tata cara perencanaan dan pemasangan sistem pipa tegak dan selang untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan atau gedung.

Standar Fire Hydrant SNI berkesinambungan dengan dokumen NFPA

NFPA (National Fire Protection Association) secara khusus telah menetapkan bahwa warna yang digunakan untuk fire hydrant adalah warna yang mencolok. H al ini bertujuan untuk memudahkan pemadam kebakaran dan orang-orang sekitar (sebelum petugas datang)  dalam menanggulangi api dalam keadaan darurat sekali pun. Warna yang dianjurkan adalah merah dan kuning dengan tingkat kroma yang tinggi. Sementara pilihan warna lain yang mudah terlihat diantaranya putih dan silver. Walaupun NFPA telah menetapkan banyak warna namun yang terpilih harus selalu konsisten. Di  Indonesia sendiri konsisten pada warna merah untuk fire hydrant. Meskipun demikian, sebenarnya tujuan penggunaan hydrant dibedakan menjadi dua yaitu kebutuhan perkotaan atau municipal system dan kebutuhan pribadi atau private system. Private system contohnya adalah penggunaan di perusahaan, industri dan sebagainya. Oleh sebab itu,  perlu adanya perbedaan warna satu sama lain agar dapat diindentifikasi jenis kebutuhannya. Prinsip identifikasi tersebut telah lebih dulu ditetapkan di negara maju. Mereka menerapkan warna ungu untuk hydrant media air non-portable. Sementara Chrome Yellow telah digunakan untuk municipal system dan chrome red yang diperuntukkan private system. Pertanyaan selanjutnya adalah, kapan Indonesia mulai menerapkan prinsip ini?