detektor api

Sudah menjadi hal yang umum, ketika teknologi flame detector telah memainkan peran yang semakin penting dalam menjaga keselamatan terhadap kebakaran. Apalagi sekarang ini, kita sedang memasuki era di mana risiko kebakaran dapat terjadi kapan saja dan di mana saja.

Apakah Anda menyadari, bahwa bencana kebakaran itu sering timbul akibat beberapa sebab. Mulai dari gangguan pada jaringan listrik maupun alat elektronik. Nah, kebakaran juga dapat timbul dari cairan yang mudah terbakar, seperti bensin, lemak minyak, kebocoran gas dan material maupun logam yang juga mudah terbakar.

Bentuk industri yang memiliki tingkat kemungkinan yang tinggi terhadap risiko terjadinya kebakaran adalah industri minyak dan gas serta industri-industri manufaktur. Bentuk industri seperti itu, sangat tepat untuk mengaplikasikan bantuan peralatan perlindungan kebakaran, mulai dari sistem detektor, seperti flame detector hingga sistem pemadam.

Pengertian Flame Detector Beserta Fungsinya

apa itu flame detector

Flame detector adalah sebuah perangkat atau sensor yang dirancang untuk mendeteksi keberadaan api atau nyala api dalam berbagai situasi. Fungsi utama dari flame detector adalah mendeteksi kebakaran atau api yang mungkin muncul dan memberikan peringatan dini kepada pengguna atau sistem pengamanan.

Tidak hanya itu, flame detector juga akan mengirimkan sinyal untuk mengaktifkan alarm bila berhasil mendeteksi adanya percikan api yang berisiko menyebabkan bencana kebakaran.

Namun, saat memilih detektor ini, Anda diharuskan benar-benar paham atas prinsip dari alat detektor tersebut. Selain itu, Anda juga bisa meninjaunya lebih detail, demi mendapatkan detektor api yang sesuai dengan kebutuhan dan konsekuensi risiko yang mungkin terjadi.

Seperti Apa Prinsip Flame Detector?

prinsip kerja flame detector

Prinsip flame detector tersebut menggunakan metode optik yang bekerja seperti UV (ultraviolet) dan IR (infrared), visual imaging of fire, dan spektroskopi yang berfungsi untuk mengidentifikasi munculnya api

Reaksi intens bahan yang memicu kebakaran dapat ditandai dari UV, terlihatnya emisi karbondioksida, dan radiasi dari infrared. Flame Detector juga mampu membedakan antara false alarm atau peringatan palsu dengan api kebakaran sungguhan.

Hal tersebut dilakukan melalui komponen sistem yang dirancang dengan fungsi utama untuk mendeteksi adanya penyerapan cahaya yang terjadi pada gelombang tertentu.

Akan tetapi, Mitra Patigeni juga harus paham dengan tingkat potensi/risiko kebakaran dari setiap jenis bahan yang ada di area perusahaan Anda.

Pada umumnya, bahan bakar industri yang tergolong mudah terbakar antara lain:

  • Bensin,
  • Hidrogen,
  • Belerang,
  • Alkohol,
  • LNG/LPG,
  • Minyak tanah,
  • Kertas,
  • Kayu,
  • Tekstil,
  • Ethylene,
  • Pelarut, dll.

Melihat banyak sekali bahan yang bisa dengan mudah terbakar, maka teknologi flame detector yang umum digunakan adalah teknologi Visual Flame Imaging, Ultraviolet, Multi-Spectrum Infrared, dan UV/IR yang merupakan gabungan dari ultraviolet/infrared.

Dari keempat teknologi tersebut memang sudah dirancang berdasarkan dengan deteksi radiasi line-of-sight yang berasal dari visible, UV, hingga IR spectral bands oleh percikan api.

Nah, untuk memilih di antara empat teknologi tersebut, penting sekali untuk memenuhi persyaratan mengenai fire monitoring application, seperti jangkauan deteksi, durasi waktu merespon, FOV (Field of View), dan kekebalan terhadap false alarm tertentu, serta self diagnostik.

Jenis-Jenis Flame Detector yang Wajib Anda Ketahui

Supaya Mitra Patigeni bisa lebih mengenal per jenis dari flame detector, kita akan bahas satu persatu tentang apa saja detektor api yang ada dan bisa menjadi solusi terkini dalam mendeteksi kebakaran.

Di bawah ini merupakan jenis-jenis flame detector yang sering digunakan dalam perlindungan kebakaran:

1. Detektor Api Ultraviolet

UV Flame Detektor

Flame Detector dengan teknologi ultraviolet mampu merespon radiasi dengan kisaran spektral mulai dari 180 hingga 260 nanometer.

Kemampuan respon teknologi UV tergolong sangat cepat, begitu pula tingkat sensitivitas yang sangat baik dalam range 0 sampai 50 kaki.

Teknologi detektor api UV ini memiliki respon sensitif terhadap lampu halogen, busur pengelasan, serta petir dan muatan-muatan listrik lainnya.

2. Detektor Api UV/IR

UV IR Flame Detektor

Jenis flame detector ini juga sering disebut dengan dual band yang bekerja saat sensor infrared diintegrasi oleh sensor optik ultraviolet.

Di mana detektor dual band tersebut bersifat sensitif baik terhadap radiasi yang berasal dari ultraviolet maupun radiasi infrared yang dihasilkan oleh pancaran percikan api.

Kombinasi dari UV dan IR tersebut memiliki tingkatan kekebalan lebih tinggi selama UV detector beroperasi dalam respon yang berkecepatan moderat.

Teknologi flame detector ini sangat tepat untuk digunakan di segala lokasi baik lokasi terbuka atau outdoor dan lokasi tertutup atau indoor.

3. Multi-Spectrum IR Flame Detector

Multi-Spectrum IR Flame Detektor

Detektor api dengan teknologi ini memanfaatkan secara multipel daerah spektral IR dengan tujuan meningkatkan tingkat diferensiasi dari radiasi sumber api maupun sumber non api.

Teknologi flame detector dengan multi-spectrum IR ini sangat tepat untuk area atau lokasi-lokasi yang memungkinkan terjadi risiko kebakaran yang menimbulkan asap.

Teknologi ini memiliki sistem operasi berkecepatan sedang karena memiliki kemampuan menjangkau jarak sampai dengan 200 kaki dari sumber percikan api, indoor ataupun outdoor.

Multi-spectrum IR memiliki tingkat kekebalan yang cenderung tinggi terhadap radiasi yang berasal dari IR akibat adanya sengatan panas matahari, percikan akibat aktivitas pengelasan, adanya muatan listrik, hingga pemicu berupa material bersifat panas lainnya.

4. Visual Flame Imaging Detector

Visual Flame Imaging Detektor

Teknologi flame detector terbaru ini menggunakan beberapa perangkat CCD image sensors yang umumnya digunakan dalam kamera sirkuit tertutup, serta algoritma pendeteksi api untuk mengidentifikasi keberadaan percikan api kebakaran yang sebenarnya.

Dengan adanya algoritma, komponen CCD dapat memproses gambar video dan menghasilkan analisis mengenai bentuk serta perkembangan api kebakaran. Dengan seperti itu, sensor dapat membedakan antara sumber api dan sumber non api.

Teknologi tidak sama bila dibandingkan dengan tiga teknologi yang sebelumnya. Visual Flame Imaging juga bekerja dengan tidak bergantung terhadap gejala yang mendeteksi terjadinya kebakaran seperti adanya cahaya api, emisi karbon dioksida, dan sebagainya.

Mempertimbangkan karakteristik tersebut, teknologi ini mungkin akan digunakan hanya di lokasi-lokasi di mana terdapat resiko kebakaran cukup tinggi, untuk menghindari terjadinya isu false alarm.

Nah, itulah pembahasan kali ini tentang apa itu flame detector, beserta dengan fungsi dan jenis-jenisnya. Misalkan Anda memiliki pertanyaan seputar detektor api maupun fire alarm system, bisa konsultasikan secara gratis kepada Patigeni. Hubungi kami sekarang!

Leave A Comment